Keuangan

Saham BBRI, BMRI, BBTN Bersinar! Dividen 2025 Diprediksi Naik Tajam

25

Bergas Media –  Prospek saham sektor perbankan kembali menarik perhatian pasar setelah sejumlah emiten besar mengisyaratkan pembagian dividen yang lebih agresif untuk tahun buku 2025. Beberapa bank papan atas seperti BBRI, BMRI, BBTN, BNGA, hingga BDMN menunjukkan optimisme terhadap kinerja keuangan sekaligus komitmen dalam meningkatkan imbal hasil bagi investor.

Melansir finansial.bisnis.com, Emiten perbankan pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi salah satu sorotan utama dalam pergerakan saham bank. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa perseroan memiliki ruang yang cukup luas untuk meningkatkan rasio pembagian dividen. Hal ini didukung oleh kondisi permodalan yang sangat kuat, tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) yang mencapai 23,53% hingga akhir 2025.

Dengan struktur modal yang solid tersebut, BBRI berpotensi memberikan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Strategi ini diyakini mampu meningkatkan daya tarik saham BBRI di mata investor, terutama bagi mereka yang mencari pendapatan pasif dari dividen.

Sebagai gambaran, pada awal 2026 BBRI telah menyalurkan dividen interim sebesar Rp137 per saham dengan total nilai mencapai Rp20,63 triliun. Angka ini menjadi bagian dari total dividen tahun buku 2025. Sebelumnya, untuk tahun buku 2024, BBRI membagikan dividen hingga Rp51,74 triliun atau setara 85,32% dari laba bersih.

Tidak kalah menarik, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga memberikan sinyal positif bagi investor saham. Direktur Utama BMRI, Riduan, mengindikasikan bahwa rasio dividen tahun buku 2025 berpotensi lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 78%.

Meski demikian, keputusan final tetap akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 29 April 2026. Dengan ekspektasi peningkatan dividen, saham BMRI diperkirakan tetap menjadi incaran investor institusi maupun ritel.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mengusulkan pembagian dividen tunai maksimal sebesar Rp4,06 triliun. Nilai tersebut setara dengan sekitar 60% dari laba bersih tahun 2025 yang mencapai Rp6,77 triliun. Kebijakan ini mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan pengembalian kepada pemegang saham.

Dari segmen bank fokus perumahan, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) juga menunjukkan langkah progresif. Manajemen berencana meningkatkan rasio dividen menjadi 30% dari laba tahun buku 2025, naik dari sebelumnya 25%. Kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki return on equity (ROE) sekaligus meningkatkan daya tarik saham BBTN di pasar.

Sebagai perbandingan, pada tahun buku 2024 BBTN membagikan dividen sebesar Rp751,83 miliar atau Rp53,57 per saham. Dengan target peningkatan rasio, investor saham BBTN berpeluang mendapatkan imbal hasil yang lebih kompetitif di tahun ini.

Di sisi lain, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) tetap mempertahankan kebijakan dividen yang relatif stabil. Dalam beberapa tahun terakhir, perseroan konsisten membagikan sekitar 35% dari laba bersih kepada pemegang saham. Untuk tahun buku 2025, keputusan final masih menunggu hasil RUPST yang dijadwalkan pada akhir Maret 2026.

Konsistensi ini menjadi nilai tambah bagi investor jangka panjang yang mengincar stabilitas saham sekaligus pendapatan dividen yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, tren peningkatan dividen di sektor perbankan menunjukkan fundamental industri yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi global. Hal ini menjadi katalis positif bagi pergerakan saham bank di Bursa Efek Indonesia.

Bagi investor, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk menyusun strategi investasi berbasis dividen yield. Dengan memilih saham perbankan yang memiliki kinerja kuat dan kebijakan dividen yang atraktif, peluang mendapatkan return optimal menjadi semakin terbuka.

Ke depan, arah kebijakan dividen akan sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, pertumbuhan kredit, serta strategi ekspansi masing-masing bank. Namun satu hal yang pasti, sektor perbankan masih menjadi tulang punggung utama dalam portofolio saham di Indonesia.

Exit mobile version