Wabah Hantavirus Gegerkan Dunia, WHO Keluarkan Peringatan Serius - Bergas Media
BeritaInternasionalKesehatan

Wabah Hantavirus Gegerkan Dunia, WHO Keluarkan Peringatan Serius

29
×

Wabah Hantavirus Gegerkan Dunia, WHO Keluarkan Peringatan Serius

Share this article

Wabah Hantavirus Andes Gegerkan Dunia, WHO Keluarkan Peringatan: Ini Gejala, Cara Penularan, dan Situasi di Indonesia

Bergas Media – Wabah Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menerima laporan sejumlah kasus penyakit pernapasan berat di atas kapal pesiar berbendera Belanda pada awal Mei 2026. Peristiwa ini memicu kewaspadaan global karena sebagian kasus dikonfirmasi sebagai infeksi Virus Andes (ANDV), salah satu jenis hantavirus paling mematikan di dunia.

Hingga 8 Mei 2026, total delapan kasus telah dilaporkan, termasuk tiga kematian dengan rasio kematian mencapai 38 persen. Dari jumlah tersebut, enam kasus telah dipastikan secara laboratorium sebagai infeksi virus Andes melalui pemeriksaan PCR dan pengurutan genom virus.

WHO menyebut risiko global masih rendah, namun risiko bagi penumpang dan awak kapal dinilai berada pada tingkat moderat. Otoritas kesehatan internasional kini melakukan pelacakan kontak lintas negara melalui mekanisme International Health Regulations (IHR).

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis dari genus Orthohantavirus dalam famili Hantaviridae. Virus ini ditularkan terutama melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut.

Penyakit akibat hantavirus terbagi menjadi dua sindrom utama:

  • Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yang menyerang paru-paru dan banyak ditemukan di Benua Amerika.
  • Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang menyerang ginjal dan umum ditemukan di Asia serta Eropa.

Kasus yang sedang menjadi perhatian dunia saat ini berasal dari jenis Virus Andes, varian hantavirus yang dikenal sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru akut.

Berbeda dengan sebagian besar hantavirus lainnya, virus Andes diketahui memiliki kemungkinan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu, terutama melalui kontak dekat dan berkepanjangan.

Kronologi Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar

Pada 2 Mei 2026, WHO menerima laporan dari pemerintah Inggris mengenai sejumlah penumpang kapal pesiar yang mengalami penyakit pernapasan akut berat. Kapal tersebut diketahui berlayar dari kawasan Amerika Selatan sebelum menuju Afrika dan Eropa.

Kasus pertama diduga berasal dari seorang pria dewasa yang telah melakukan perjalanan selama lebih dari tiga bulan di Argentina, Chili, dan Uruguay sebelum naik kapal pada 1 April 2026.

Pria tersebut mulai mengalami gejala pada 6 April dan meninggal dunia di atas kapal pada 11 April. Meski tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium, ia dikategorikan sebagai kasus probable.

Setelah itu, sejumlah penumpang lain mulai mengalami gejala serupa, termasuk demam tinggi, gangguan pernapasan, pneumonia berat, hingga gagal napas.

Beberapa pasien kemudian dievakuasi secara medis ke berbagai negara seperti Belanda, Swiss, Afrika Selatan, dan Jerman.

WHO mencatat hingga 8 Mei terdapat:

  • 8 kasus total
  • 6 kasus terkonfirmasi laboratorium
  • 2 kasus probable
  • 3 kematian
  • 4 pasien dirawat di rumah sakit
  • 1 pasien dalam kondisi kritis di ICU

Seluruh kasus terkonfirmasi diketahui terinfeksi Virus Andes.

Gejala Hantavirus yang Harus Diwaspadai

Gejala hantavirus sering kali menyerupai flu biasa pada tahap awal sehingga sulit dikenali.

Beberapa gejala awal yang umum muncul antara lain:

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Sakit perut
  • Kelelahan ekstrem
  • Menggigil

Pada kasus yang berkembang menjadi HPS atau HCPS, pasien dapat mengalami:

  • Sesak napas berat
  • Pneumonia
  • Penumpukan cairan di paru-paru
  • Hipotensi
  • Gagal napas akut

Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara satu hingga enam minggu setelah paparan virus. Dalam beberapa kasus, gejala dapat muncul hanya dalam satu minggu atau bahkan hingga delapan minggu setelah terpapar.

Bagaimana Hantavirus Menular?

Penularan utama hantavirus berasal dari kontak manusia dengan hewan pengerat yang terinfeksi.

Virus dapat menyebar melalui:

  • Urin tikus
  • Feses tikus
  • Air liur tikus
  • Debu yang terkontaminasi partikel virus
  • Gigitan hewan pengerat

Penularan sering terjadi saat seseorang membersihkan area yang dipenuhi tikus tanpa perlindungan memadai. Saat kotoran tikus mengering, partikel virus dapat beterbangan di udara dan terhirup manusia.

Kasus banyak ditemukan di area:

  • Pedesaan
  • Pertanian
  • Gudang
  • Rumah kosong
  • Hutan
  • Ladang

Untuk sebagian besar jenis hantavirus di Asia dan Eropa, penularan antarmanusia belum pernah terbukti. Namun khusus virus Andes di Amerika Selatan, terdapat laporan terbatas mengenai transmisi antarmanusia melalui kontak sangat dekat.

Situasi Hantavirus di Indonesia

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan memastikan terus memantau perkembangan kasus hantavirus yang berkaitan dengan kapal pesiar internasional tersebut.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa virus ini tidak mudah menular antarmanusia seperti COVID-19.

“99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia,” ujar Menkes dalam keterangannya di Jakarta pada 12 Mei 2026.

Pemerintah Indonesia mulai bergerak cepat setelah menerima informasi dari otoritas kesehatan Inggris pada 7 Mei 2026 terkait seorang warga negara asing yang memiliki riwayat kontak erat dengan kasus di kapal pesiar.

Pada 8 Mei 2026, pasien langsung diidentifikasi dan dievakuasi ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso di Jakarta untuk menjalani isolasi.

Hingga kini, seluruh hasil pemeriksaan kontak erat di Indonesia masih menunjukkan hasil negatif.

Meski demikian, pemerintah tetap menerapkan masa pemantauan selama dua minggu sebagai langkah antisipasi.

Jenis Hantavirus di Indonesia

Di Indonesia, strain hantavirus yang paling banyak ditemukan adalah Seoul Virus (SEOV) yang termasuk tipe HFRS.

Varian ini memiliki tingkat kematian lebih rendah dibanding virus Andes, yakni sekitar 5 hingga 15 persen.

Reservoir utama hantavirus di Indonesia berasal dari berbagai jenis tikus, di antaranya:

  • Rattus norvegicus (tikus got)
  • Rattus tanezumi (tikus rumah)
  • Rattus exulans (tikus ladang)
  • Rattus argentiventer (tikus sawah)
  • Mus musculus (mencit rumah)
  • Bandicota indica

Keberadaan virus ini telah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari lingkungan rumah, sawah, perkebunan, hingga hutan.

Belum Ada Obat dan Vaksin Khusus

Salah satu hal yang membuat hantavirus berbahaya adalah belum adanya obat antivirus spesifik maupun vaksin yang disetujui secara luas.

Penanganan pasien saat ini masih bersifat suportif, seperti:

  • Pemberian oksigen
  • Perawatan ICU
  • Ventilator
  • Pengobatan gejala
  • Terapi cairan

WHO menyebut penanganan dini dan akses cepat ke fasilitas ICU dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien.

Data Kasus Global Hantavirus

Meski relatif jarang, hantavirus tetap menjadi ancaman kesehatan global.

Pada tahun 2025 di kawasan Amerika, tercatat:

  • 229 kasus
  • 59 kematian
  • Case Fatality Rate (CFR) 25,7 persen

Sementara di Eropa, tahun 2023 tercatat 1.885 infeksi hantavirus dengan tingkat insiden sekitar 0,4 per 100 ribu penduduk.

Di Asia Timur seperti Tiongkok dan Korea Selatan, demam berdarah hantavirus tipe HFRS masih menyebabkan ribuan kasus setiap tahun, meski trennya menurun.

Cara Mencegah Hantavirus

Pencegahan hantavirus terutama dilakukan dengan menghindari kontak dengan hewan pengerat dan menjaga kebersihan lingkungan.

Berikut langkah pencegahan yang dianjurkan:

  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
  • Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area kotor
  • Menyemprot disinfektan pada kotoran tikus sebelum dibersihkan
  • Tidak menyentuh tikus hidup maupun mati secara langsung
  • Mengelola sampah dengan baik
  • Menutup akses masuk tikus ke rumah
  • Rajin mencuci tangan menggunakan sabun

Masyarakat juga diminta lebih waspada ketika membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang lama tidak digunakan.

WHO Terus Pantau Situasi Global

WHO menyatakan investigasi terhadap sumber wabah masih terus berlangsung bersama otoritas kesehatan Argentina dan Chili.

Fokus utama saat ini adalah menentukan sumber paparan awal serta memastikan tidak terjadi penyebaran lebih luas melalui pelacakan kontak internasional.

Meski risiko global dinilai rendah, kemunculan kasus hantavirus Andes di kapal pesiar internasional menunjukkan bahwa penyakit zoonosis masih menjadi ancaman serius dunia modern.

Para ahli menilai perubahan lingkungan, peningkatan mobilitas manusia, serta interaksi yang semakin dekat dengan habitat hewan liar dapat meningkatkan risiko kemunculan wabah zoonosis baru di masa depan.

Oleh karena itu kewaspadaan masyarakat dan kesiapan sistem kesehatan menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran penyakit seperti hantavirus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *