Bergas Media – Gempa NTT kembali menjadi perhatian setelah pemutakhiran data menunjukkan dampak bencana yang semakin luas. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan pusat gempa di sekitar Nagekeo, menyebabkan ribuan warga mengungsi dan menimbulkan kerusakan pada rumah maupun fasilitas publik.
Melansir RRI.co.id, perkembangan penanganan bencana hingga Minggu, 16 Agustus 2026, menunjukkan jumlah korban terus diperbarui oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam laporan terbaru, tercatat 53 orang meninggal dunia dan 135 orang mengalami luka-luka.
Korban Gempa NTT Terus Bertambah
Data terbaru tersebut menunjukkan adanya perubahan dibandingkan laporan awal penanganan darurat. Sebelumnya, BNPB melaporkan sebanyak 47 orang meninggal dunia dan 101 warga mengalami luka-luka. Setelah proses pendataan, penyisiran lokasi, serta verifikasi oleh tim gabungan, jumlah korban kemudian diperbarui menjadi 53 meninggal dunia dan 135 luka-luka.
Korban meninggal tersebar di sejumlah kabupaten terdampak. Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban paling banyak. Pada pemutakhiran sebelumnya, tercatat 23 korban meninggal dunia di Manggarai, disusul Manggarai Timur sebanyak 17 orang.
Korban lainnya tercatat di Sikka, Manggarai Barat, Ende, dan Nagekeo. Proses identifikasi serta verifikasi masih dilakukan untuk memastikan data korban dan dampak bencana di seluruh wilayah terdampak.
Lebih dari 5.000 Warga Mengungsi
Dampak gempa Nagekeo NTT juga menyebabkan lebih dari 5.000 warga harus meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. BNPB menyebut dampak gempa sangat masif sehingga kebutuhan dasar masyarakat di lokasi pengungsian menjadi prioritas utama.
Jumlah pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Sikka. Sebanyak 3.356 jiwa dilaporkan mengungsi. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.356 orang berada di GOR Samador, sedangkan 2.000 warga lainnya tersebar di 10 titik pengungsian.
Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai sekitar 2.078 jiwa. Sementara itu, sekitar 500 warga lainnya mengungsi di wilayah Nagekeo. Pengungsi juga dilaporkan berada di Bima, Nusa Tenggara Barat, serta Kepulauan Selayar.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa pemenuhan hak dasar masyarakat terdampak menjadi bagian penting dalam penanganan masa darurat. Kebutuhan makanan, air bersih, tempat tinggal sementara, pelayanan kesehatan, dan perlengkapan pengungsian terus dipenuhi secara bertahap.
Kebutuhan Pengungsi Masih Tinggi
Di Kabupaten Manggarai, penyintas gempa masih membutuhkan puluhan tenda darurat untuk menampung warga yang belum dapat kembali ke rumah. Selain itu, kebutuhan logistik yang harus segera dipenuhi mencapai sekitar 30 ton beras.
Kebutuhan lain yang telah diidentifikasi meliputi obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, serta 1.000 lembar tikar. Pemerintah juga membutuhkan dukungan pasokan air bersih melalui tandon serta generator set untuk membantu aktivitas masyarakat selama berada di lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana gempa NTT 2026 tidak hanya berkaitan dengan evakuasi korban, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar warga dalam masa pemulihan awal.
Gempa Susulan Terjadi Ratusan Kali
Setelah gempa utama, aktivitas kegempaan masih berlangsung. BNPB mencatat sebanyak 341 kali gempa susulan hingga pemutakhiran data dilakukan.
Aktivitas gempa susulan membuat masyarakat diminta tetap waspada, terutama warga yang berada di sekitar bangunan rusak. Tim penanganan bencana terus melakukan pemantauan dan pendataan untuk memastikan kondisi di lapangan tetap terkendali.
Masyarakat terdampak juga diimbau mengikuti arahan petugas dan tidak terburu-buru kembali ke rumah apabila bangunan dinilai belum aman. Pemeriksaan terhadap bangunan yang mengalami kerusakan menjadi penting untuk menghindari korban tambahan akibat runtuhan.
Ratusan Rumah Mengalami Kerusakan
Selain korban jiwa, kerusakan rumah akibat gempa NTT juga menjadi perhatian pemerintah. Dalam laporan terbaru BNPB pada hari kedua penanganan, tercatat sebanyak 241 unit rumah rusak.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa kerusakan tersebut terdiri dari 154 rumah rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah rusak ringan. Kabupaten Manggarai Barat tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kerusakan rumah yang cukup besar.
Pada pemutakhiran sebelumnya, jumlah kerusakan tercatat lebih tinggi karena pendataan mencakup wilayah dan kategori kerusakan yang berbeda, yakni 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Data tersebut masih terus diverifikasi oleh petugas di lapangan sehingga angka kerusakan dapat berubah mengikuti hasil pemeriksaan.
Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan Turut Terdampak
Gempa tidak hanya merusak rumah warga. Sejumlah fasilitas publik juga terdampak. Data penanganan sebelumnya mencatat kerusakan pada 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan.
Kerusakan fasilitas pendidikan menjadi perhatian karena dapat mengganggu aktivitas belajar mengajar anak-anak di daerah terdampak. Pemerintah bersama pemerintah daerah dan tim teknis akan melakukan pendataan untuk menentukan fasilitas mana yang masih dapat digunakan dan mana yang membutuhkan perbaikan atau pembangunan kembali.
Status Tanggap Darurat Mulai Ditetapkan
Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari. Sejumlah kabupaten terdampak juga telah menetapkan status kedaruratan masing-masing dan membentuk pos komando untuk mempercepat koordinasi penanganan.
Kabupaten Manggarai menetapkan status tanggap darurat selama 90 hari, mulai 15 Agustus hingga 13 November 2026. Kabupaten Ngada menetapkan tanggap darurat selama 30 hari, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status siaga darurat hingga 4 September 2026.
Penetapan status tersebut diperlukan untuk mempercepat mobilisasi personel, peralatan, logistik, pelayanan kesehatan, hingga dukungan bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan.
Rumah Sakit Lapangan Beroperasi di Manggarai
Untuk memperkuat pelayanan medis, rumah sakit lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Fasilitas tersebut disiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdampak gempa sekaligus membantu mengurangi beban fasilitas kesehatan setempat.
Tim gabungan bersama BPBD juga masih melakukan penyisiran lokasi untuk mendata dan memverifikasi dampak bencana. Langkah tersebut diperlukan agar bantuan pemerintah dapat disalurkan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Akses Larantuka-Maumere Sudah Terhubung
Di tengah proses tanggap darurat, akses transportasi menjadi faktor penting untuk mempercepat distribusi bantuan. Jalur darat Larantuka-Maumere dilaporkan sudah terhubung dan dapat dilalui.
Terbukanya jalur tersebut membantu mobilitas kendaraan pengangkut logistik serta mendukung proses evakuasi masyarakat. Pemerintah dan tim gabungan terus memastikan akses menuju wilayah terdampak tetap terbuka sehingga bantuan dapat menjangkau lokasi pengungsian.
Update gempa NTT hingga Minggu, 16 Agustus 2026 menunjukkan bahwa penanganan bencana masih berlangsung. Dengan jumlah korban mencapai 53 orang meninggal dan 135 orang luka-luka serta ribuan warga mengungsi, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat menjadi sangat penting.
Data korban, pengungsi, dan kerusakan masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan. Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan tetap mengikuti informasi resmi pemerintah dan petugas kebencanaan serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

















