BERGASMEDIA.com – Dalam sejarah Islam terdapat banyak sosok mulia yang menjadi teladan bagi umat. Salah satu di antaranya adalah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang namanya disebut langsung oleh Rasulullah ﷺ meskipun ia tidak pernah bertemu dengan beliau.
Kisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita tentang seorang pemuda saleh, tetapi merupakan pelajaran besar mengenai arti berbakti kepada orang tua (birrul walidain), keikhlasan dalam beribadah, serta bagaimana Allah SWT mengangkat derajat seorang hamba yang mungkin tidak dikenal manusia, tetapi sangat dikenal oleh penduduk langit.
Hingga saat ini, kisahnya masih sering disampaikan oleh banyak ulama, sebagai pengingat bahwa keridhaan Allah sangat erat kaitannya dengan keridhaan kedua orang tua.
Siapakah Uwais Al-Qarni?
Uwais Al-Qarni merupakan seorang tabi’in yang berasal dari daerah Qaran, Yaman. Ia hidup pada masa Rasulullah ﷺ dan telah memeluk Islam melalui dakwah yang sampai ke negerinya.
Sejak mendengar tentang Nabi Muhammad ﷺ, hati Uwais dipenuhi rasa cinta. Ia sangat ingin datang ke Madinah untuk bertemu Rasulullah ﷺ, mendengarkan nasihat beliau secara langsung, dan menjadi bagian dari para sahabat.
Namun takdir Allah menentukan jalan yang berbeda.
Uwais memiliki seorang ibu yang telah lanjut usia dan mengalami kondisi fisik yang lemah. Tidak ada seorang pun yang dapat merawat ibunya selain dirinya. Karena itu, setiap kali muncul kesempatan untuk berangkat menemui Rasulullah ﷺ, ia selalu mengutamakan ibunya.
Ia memahami bahwa merawat sang ibu adalah amanah besar yang tidak boleh ditinggalkan.
Keputusan itu membuatnya tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ hingga beliau wafat.
Kemuliaan Uwais Al-Qarni di Sisi Allah
Meskipun tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ, nama Uwais justru disebut oleh Nabi Muhammad ﷺ di hadapan para sahabat.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ
Artinya:
“Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Dahulu ia menderita penyakit belang, lalu Allah menyembuhkannya kecuali tersisa sebesar satu dirham. Ia memiliki seorang ibu yang sangat ia baktikan. Seandainya ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Maka jika engkau mampu memintanya memohonkan ampun untukmu, lakukanlah.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan Uwais Al-Qarni di sisi Allah SWT.
Umar bin Khattab RA Mencari Uwais Al-Qarni
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Umar bin Khattab RA tidak pernah melupakan pesan tersebut.
Setiap musim haji, beliau selalu bertanya kepada jamaah yang datang dari Yaman.
“Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais Al-Qarni?”
Tahun demi tahun berlalu.
Nabi Muhammad ﷺ telah wafat.
Abu Bakar Ash-Shiddiq RA wafat.
Umar menjadi khalifah selama bertahun-tahun.
Namun sosok Uwais belum juga ditemukan.
Hingga pada suatu musim haji, seorang jamaah dari Yaman berkata bahwa ia mengenal seorang penggembala kambing bernama Uwais yang baru datang berhaji.
Mendengar kabar tersebut, Umar segera menemui orang itu.
Ketika bertemu, Umar menanyakan beberapa ciri yang dahulu disebutkan Rasulullah ﷺ.
Semuanya sesuai.
Umar kemudian berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah memerintahkannya untuk meminta doa kepada Uwais.
Mendengar ucapan itu, Uwais menangis karena mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ mengenalnya meski mereka tidak pernah bertemu.
Doa Uwais Al-Qarni yang Mustajab
Salah satu keistimewaan terbesar Uwais adalah doanya yang mustajab.
Bukan karena ia seorang nabi, bukan pula karena memiliki kedudukan duniawi.
Keistimewaan itu diberikan Allah karena ketakwaannya dan baktinya kepada sang ibu.
Pelajaran ini sangat penting bagi setiap muslim.
Sering kali seseorang mengejar kedudukan, harta, bahkan popularitas. Padahal Allah bisa saja mengangkat derajat seseorang hanya karena amal yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Bakti kepada orang tua merupakan salah satu amal yang paling dicintai Allah SWT.
Firman Allah tentang Berbakti kepada Orang Tua
Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Allah Mengabulkan Doa Orang yang Ikhlas
Allah SWT juga menjanjikan bahwa setiap hamba yang berdoa dengan penuh keikhlasan akan mendapatkan jawaban dari-Nya.
Firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)
Ulama menjelaskan bahwa orang yang menjaga ketakwaan, menjauhi maksiat, serta berbakti kepada orang tua memiliki sebab-sebab yang menguatkan terkabulnya doa, meskipun pengabulannya tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
Pelajaran Besar dari Kisah Uwais Al-Qarni
Kisah Uwais Al-Qarni mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah soal terkenal di dunia, tetapi dikenal oleh Allah SWT.
Ia tidak memiliki jabatan.
Tidak kaya raya.
Bahkan sebagian besar masyarakat Yaman tidak mengenalnya.
Namun Rasulullah ﷺ mengenalkannya kepada para sahabat sebagai seorang hamba yang sangat mulia.
Dari kisah tersebut terdapat sejumlah hikmah yang dapat diambil:
- Mengutamakan ridha Allah daripada kepentingan pribadi.
- Berbakti kepada orang tua merupakan amal yang sangat besar pahalanya.
- Keikhlasan mampu mengangkat derajat seorang hamba.
- Kemuliaan tidak diukur dari popularitas ataupun jabatan.
- Doa orang yang bertakwa memiliki keutamaan di sisi Allah sesuai kehendak-Nya.
Penutup
Di era modern ketika banyak orang berlomba mengejar kesuksesan dunia, kisah Uwais Al-Qarni menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati adalah memperoleh ridha Allah SWT.
Ia rela mengorbankan kesempatan yang mungkin menjadi impian setiap muslim, yakni bertemu langsung dengan Rasulullah ﷺ, demi tetap merawat ibunya yang telah renta.
Allah SWT membalas pengorbanan itu dengan kemuliaan yang luar biasa. Namanya disebut oleh Nabi Muhammad ﷺ, doanya dikenal mustajab, dan kisah hidupnya terus dikenang hingga sekarang sebagai teladan bagi umat Islam.
Semoga kisah Uwais Al-Qarni menjadi motivasi bagi kita semua untuk semakin menghormati, menyayangi, dan berbakti kepada kedua orang tua selama mereka masih hidup maupun setelah wafat melalui doa dan amal saleh. Sebab, bisa jadi jalan menuju keberkahan hidup dan keridhaan Allah SWT berawal dari bakti tulus kepada ayah dan ibu.
